Bahasa Ibu Tak Padam Meski Lampu Sempat Padam: Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional

Ratusan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama memadati balai riung Yayasan Islam Al-Fahd pada Jumat pagi, 13 Februari 2026. Bersama Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, yayasan tersebut menggelar kegiatan Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) Tahun 2026. Listrik sempat padam di tengah kegiatan. Namun, semangat peserta tak ikut redup.

Sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan (BBPSS) yang diwakili oleh Kasubbag Umum BBPSS, Hadiah, S.E. menyatakan bahwa peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang penguatan peran generasi muda dalam menjunjung tinggi bahasa ibu. Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama dipelajari di lingkungan keluarga sejak kecil atau bahasa yang menemani tumbuh kembang seseorang sejak kecil.  Di tengah keberagaman bahasa ibu yang dimiliki setiap orang, bahasa Indonesia pun hadir sebagai bahasa pemersatu. Kemampuan menggunakan keduanya secara arif dan proporsional bukan sekadar wujud pelestarian, melainkan ikhtiar menjaga kekayaan budaya sekaligus menumbuhkan masa depan pendidikan yang inklusif dan berwarna.

Direktur Pendidikan Islam Al-Fahd, Dr. (C). Mukhlisin, S.Si., M.Mkmt.Gr., yang mewakili Ketua Yayasan dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian dan kesungguhan, mengingat pentingnya memahami makna peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah pengetahuan dan memperdalam kesadaran kebahasaan.

Sesi materi diawali dengan program “Kamus Masuk Sekolah” yang memperkenalkan siswa pada dunia leksikografi, yakni ilmu tentang perkamusan dari BBPSS dengan narasumber Yulia Mashitoh, S.Pd., Dewi Sartika, M.Pd.,  dan M Andri Zulfadli, S.Pd. Para siswa diperkenalkan pada berbagai jenis kamus serta ragam medianya. Kegiatan kemudian berlanjut dengan pengenalan kosakata dari berbagai bahasa daerah di Sumatera Selatan. Dalam sesi praktik, siswa membaca dan menceritakan kembali cerita menggunakan bahasa daerah.

Tak hanya siswa, pada siang harinya, pegawai Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan juga terlibat dalam sesi menulis kutipan sastra. Kutipan sastra ini ditulis menggunakan bahasa ibu masing-masing pegawai. Para pegawai menikmati keseruan menulis dan membaca kutipan sastra dari berbagai bahasa ibu yang ditulis dan ditempel di mading BBPSS.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa penguatan bahasa bukan hanya tugas peserta didik, tetapi juga aparatur yang mengampu kebijakan dan pembinaan bahasa.

Di tengah keterbatasan teknis yang sempat terjadi di balai riung, semangat para siswa tetap menyala. Listrik boleh saja padam sesaat, tetapi kesadaran akan pentingnya bahasa ibu justru menemukan cahayanya. Di balai riung itu, bahasa ibu tidak sekadar dikenang sebagai warisan melainkan dihidupkan kembali sebagai penopang masa depan.

Penulis       : Al Mar’a Meidiana

Penyunting: Yeni Mastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven − four =

Scroll to Top