Pernahkah kita bertanya mengapa seseorang masih menggunakan bahasa daerah ketika sebenarnya ia dapat berbicara dalam bahasa Indonesia?
Jawabannya sederhana: karena bahasa daerah terasa dekat. Di dalamnya ada sapaan yang akrab, cara bercanda yang khas, ungkapan yang sulit digantikan, dan ingatan tentang orang-orang yang menggunakannya sejak kecil. Bahasa bukan hanya rangkaian kata untuk menyampaikan maksud. Bagi penuturnya, bahasa juga menjadi bagian dari pengalaman hidup.
Hal tersebut dapat ditemukan di Sumatera Selatan. Masyarakat di provinsi ini hidup dengan beragam bahasa daerah, seperti Melayu, Jawa, Kayu Agung, Komering, Lematang, Ogan, dan Pedamaran. Keragaman tersebut berjalan berdampingan dengan berbagai tradisi sastra lisan, seperti Guritan Besemah, Tadut, Tembang Batanghari Sembilan, dan Pantun Palembang. Aksara Ulu atau Kaganga juga menjadi bagian dari warisan kebahasaan masyarakat Sumatera Selatan.
Keberagaman itu merupakan modal budaya yang tidak sedikit. Persoalannya sekarang bukan hanya bagaimana mendokumentasikan bahasa dan sastra tersebut, tetapi bagaimana membuatnya tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi muda.
Di sinilah generasi muda memiliki peran.
Bahasa Daerah Bukan Sekadar Warisan
Sumatera Selatan memiliki hubungan yang panjang dengan sejarah perkembangan bahasa Melayu. Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 683 Masehi dan Prasasti Talang Tuwo yang bertarikh 684 Masehi menjadi bukti penting penggunaan bahasa Melayu Kuno di wilayah Palembang pada masa Sriwijaya.
Namun, kekayaan kebahasaan Sumatera Selatan tidak berhenti pada peninggalan sejarah. Sampai sekarang, berbagai bahasa daerah masih digunakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah. Setiap bahasa memiliki ciri, variasi, dan lingkungan tutur yang berbeda.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa daerah bukan benda mati yang hanya layak disimpan di museum. Bahasa merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ia digunakan untuk berbicara dengan keluarga, berinteraksi dengan tetangga, menyampaikan cerita, menyanyikan lagu, menuturkan petuah, dan membangun hubungan sosial.
Karena itu, pelestarian bahasa daerah seharusnya tidak berhenti pada kegiatan mendokumentasikan kosakata atau menyelenggarakan pertunjukan budaya. Dokumentasi memang penting, tetapi bahasa akan lebih kuat apabila masih digunakan oleh penuturnya.
Tantangannya muncul ketika generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia dan bahasa asing memiliki ruang penggunaan yang semakin luas, sementara komunikasi digital juga membawa berbagai ragam bahasa baru. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan masyarakat dan tidak perlu dipandang sebagai ancaman semata.
Yang perlu dipastikan adalah satu hal: jangan sampai perkembangan bahasa baru membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan bahasa daerahnya sendiri.
Generasi Muda Tidak Harus Menjadi Penutur Masa Lalu
Sering kali pelestarian bahasa daerah dibayangkan sebagai upaya mengembalikan anak muda pada cara berbahasa generasi terdahulu. Padahal, generasi muda tidak harus menjadi penutur masa lalu untuk dapat melestarikan bahasa daerah.
Mereka justru dapat membawa bahasa daerah ke bentuk yang baru.
Generasi muda hari ini tumbuh bersama media sosial, video pendek, podcast, gim, musik, dan berbagai bentuk komunikasi digital. Ruang tersebut dapat menjadi tempat baru bagi bahasa daerah untuk digunakan.
Kosakata daerah, misalnya, dapat diperkenalkan melalui video singkat. Cerita rakyat dapat diadaptasi menjadi komik digital. Pantun dapat dipadukan dengan musik. Sastra lisan dapat direkam dan disebarluaskan melalui platform digital. Aksara Ulu dapat diperkenalkan melalui desain grafis atau konten edukatif yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi sekarang.
Dengan cara tersebut, bahasa daerah tidak hanya dibicarakan sebagai warisan, tetapi benar-benar digunakan dan hadir dalam kehidupan.
Namun, kreativitas saja tidak cukup. Konten kebahasaan harus tetap memperhatikan ketepatan informasi. Generasi muda perlu memahami bahwa sebuah kata tidak selalu dapat digunakan sembarangan. Ada istilah yang memiliki konteks tertentu, ada ungkapan yang berkaitan dengan hubungan sosial, dan ada pula bahasa yang erat dengan tradisi masyarakat.
Karena itu, literasi bahasa menjadi penting.
Literasi Bahasa Bukan Sekadar Bisa Membaca
Literasi bahasa sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, dalam konteks kebahasaan, literasi juga mencakup kemampuan memahami, menggunakan, menilai, dan menyampaikan informasi secara tepat.
Generasi muda yang memiliki literasi bahasa tidak hanya tahu arti sebuah kata. Mereka juga memahami kapan kata tersebut digunakan, kepada siapa kata itu disampaikan, dan dalam situasi seperti apa kata tersebut tepat digunakan.
Kemampuan tersebut dapat diterapkan pada bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.
Dalam penggunaan bahasa Indonesia, misalnya, generasi muda perlu mampu membedakan bahasa untuk situasi resmi dengan bahasa dalam percakapan santai. Dalam penggunaan bahasa daerah, mereka perlu memahami ragam dan konteks sosialnya. Sementara itu, ketika berhadapan dengan bahasa asing, mereka dapat mengambil manfaat dari kemampuan tersebut tanpa kehilangan kedekatan dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Oleh karena itu, penguasaan beberapa bahasa tidak harus membuat seseorang meninggalkan salah satunya.
Hal ini sejalan dengan semangat Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiga hal tersebut dapat dilakukan secara bersamaan sesuai dengan fungsi dan konteks masing-masing.
Sastra sebagai Jalan Masuk Generasi Muda
Selain bahasa, sastra juga memiliki ruang yang besar untuk diaktualisasikan oleh generasi muda.
Sumatera Selatan memiliki banyak bentuk sastra lisan yang dapat menjadi sumber inspirasi. Guritan Besemah, Tadut, Tembang Batanghari Sembilan, dan Pantun Palembang tidak hanya memiliki nilai estetis. Di dalamnya terdapat cerita, nasihat, pengalaman, humor, dan pandangan masyarakat terhadap kehidupan.
Sayangnya, karya sastra lisan dapat semakin jauh dari generasi muda apabila hanya diperkenalkan melalui penjelasan teoritis. Anak muda perlu diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan karya tersebut.
Salah satu caranya adalah melakukan pengemasan ulang tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Misalnya, cerita atau puisi tradisional dapat diadaptasi menjadi pertunjukan musik, video pendek, podcast, atau karya visual. Generasi muda juga dapat membuat karya baru dengan mengambil inspirasi dari bentuk sastra daerah. Pantun dapat digunakan dalam lirik lagu. Cerita rakyat dapat dikembangkan menjadi cerpen. Kosakata daerah dapat hadir dalam dialog tokoh.
Adaptasi seperti ini bukan berarti mengubah karya lama sesuka hati. Justru, generasi muda perlu memahami bentuk dan konteks aslinya terlebih dahulu sebelum mengembangkannya.
Dengan demikian, sastra daerah tidak berhenti sebagai bahan dokumentasi, tetapi menjadi sumber penciptaan karya baru.
Dari Konsumen Menjadi Pencipta
Salah satu perubahan penting yang dapat dilakukan generasi muda adalah mengubah posisi mereka dari sekadar konsumen menjadi pencipta.
Di ruang digital, generasi muda memiliki kesempatan untuk menghasilkan dan menyebarkan informasi sendiri. Kesempatan ini dapat digunakan untuk memperkenalkan bahasa dan sastra daerah dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat.
Seorang pelajar, misalnya, dapat membuat seri video tentang kosakata daerah yang masih digunakan oleh orang tuanya. Mahasiswa dapat mendokumentasikan cerita dari penutur bahasa daerah di kampung halamannya. Komunitas dapat membuat kelas membaca sastra daerah. Duta Bahasa dapat mengembangkan kampanye kebahasaan yang tidak berhenti pada slogan, tetapi menghasilkan karya dan dokumentasi yang dapat digunakan kembali.
Langkah kecil seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, dampaknya dapat lebih panjang daripada sebuah kegiatan yang hanya berlangsung satu hari.
Di sisi lain, dokumentasi juga perlu dilakukan dengan bertanggung jawab. Kosakata, cerita, atau tradisi yang didokumentasikan sebaiknya disertai informasi mengenai sumber, penutur, makna, dan konteks penggunaannya. Dengan begitu, hasil dokumentasi tidak sekadar menjadi konten media sosial, tetapi dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang dapat dirujuk pada kemudian hari.
Menjaga Bahasa, Memperluas Manfaatnya
Pelestarian bahasa daerah juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Kosakata daerah, misalnya, dapat menjadi sumber pengayaan bahasa Indonesia. Sejumlah istilah dari berbagai daerah telah masuk dan digunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks Sumatera Selatan, nama makanan seperti celimpungan dan laksan telah dikenal lebih luas daripada lingkungan masyarakat asalnya.
Akan tetapi, pengenalan kosakata daerah tidak berarti setiap kata dapat langsung dianggap sebagai kosakata bahasa Indonesia. Diperlukan proses pengkajian dan pendokumentasian sebelum sebuah kosakata dapat menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia.
Di sinilah generasi muda dapat mengambil bagian dengan mendokumentasikan kosakata yang masih digunakan di lingkungannya. Mereka dapat mencatat istilah yang berkaitan dengan makanan, lingkungan, kesenian, tradisi, permainan, atau kehidupan sehari-hari. Data tersebut kemudian dapat menjadi bahan untuk pengkajian lebih lanjut.
Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya menjadi pelaku pelestarian, tetapi juga ikut memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan kebahasaan.
Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?
Peran generasi muda tidak harus dimulai dengan program yang besar. Ada banyak hal yang dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.
Pertama, menggunakan bahasa daerah dalam situasi yang sesuai. Percakapan dengan orang tua atau anggota keluarga dapat menjadi ruang paling sederhana untuk mempertahankan penggunaan bahasa daerah.
Kedua, mendokumentasikan kosakata dan cerita dari penutur yang lebih tua. Generasi muda dapat bertanya kepada orang tua, kakek, nenek, atau tokoh masyarakat mengenai kata, ungkapan, cerita, dan tradisi yang mulai jarang digunakan.
Ketiga, mengembangkan karya berbasis bahasa dan sastra daerah. Bahasa daerah dapat hadir dalam puisi, cerpen, musik, film pendek, komik, maupun konten digital.
Keempat, menggunakan media sosial sebagai ruang literasi. Konten tentang bahasa daerah dapat dibuat secara menarik, tetapi tetap berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kelima, membangun kolaborasi. Generasi muda tidak harus bekerja sendiri. Mereka dapat berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, pegiat sastra, budayawan, guru, dan lembaga kebahasaan.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa aktualisasi peran generasi muda tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Kadang-kadang, yang lebih penting adalah menemukan cara baru untuk membuat sesuatu yang sudah ada kembali digunakan.
Bahasa yang Tetap Hidup
Bahasa daerah akan terus berubah. Kosakata dapat bertambah, beberapa kata dapat berkurang penggunaannya, dan cara generasi muda berbicara mungkin berbeda dengan generasi sebelumnya. Perubahan tersebut merupakan bagian dari kehidupan bahasa.
Yang perlu dijaga adalah kesinambungan penggunaannya.
Sumatera Selatan memiliki kekayaan bahasa dan sastra yang tidak hanya penting bagi masyarakat daerah, tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Bahasa Melayu, Komering, Ogan, Lematang, Kayu Agung, Jawa, Pedamaran, serta berbagai bahasa daerah lainnya menyimpan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah wilayah ini.
Generasi muda memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana warisan tersebut akan diteruskan. Mereka dapat memilih untuk membiarkannya hanya menjadi catatan masa lalu atau membawanya ke ruang kehidupan yang baru.
Pilihan kedua tentu membutuhkan kemauan untuk belajar. Bahasa daerah perlu dikenal sebelum dapat digunakan. Sastra daerah perlu dipahami sebelum dapat dikembangkan. Dan teknologi perlu dimanfaatkan bukan hanya untuk mengikuti tren, tetapi juga untuk memperluas akses terhadap pengetahuan.
Pada akhirnya, memajukan bangsa melalui literasi bahasa dan sastra tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari satu kata yang kembali digunakan, satu cerita yang kembali dituturkan, satu karya yang terinspirasi dari sastra daerah, atau satu konten yang membuat seseorang tertarik mengenal bahasa daerahnya.
Ketika generasi muda tidak hanya mewarisi bahasa dan sastra, tetapi juga menggunakannya, mengolahnya, dan mengenalkannya kembali dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya, di situlah bahasa dan sastra benar-benar hidup.
